Cuaca Buruk dan Ombak Tinggi, Nelayan di Kedonganan Bali Tak Bisa Melaut

Home / Berita / Cuaca Buruk dan Ombak Tinggi, Nelayan di Kedonganan Bali Tak Bisa Melaut
Cuaca Buruk dan Ombak Tinggi, Nelayan di Kedonganan Bali Tak Bisa Melaut Para nelayan di Kedonganan, Kecamatan Kuta, Bali, Kamis (13/6/2019).(FOTO Khadafi/TIMES Indonesia).

TIMESBALI, BADUNGCuaca buruk dan ombak yang cukup tinggi, dengan ketinggian sekitar 4 meter, membuat para nelayan di Pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, tidak berani melaut. 

Salah satu nelayan, yakni Made Daya (50) mengaku sudah dua hari ini tak pergi melaut. Ia tak melaut karena ombak tinggi yang mencapai 4 meter. Padahal, mencari ikan di laut menjadi sumber utama penghidupannya. 

"Sudah dua hari libur, iya karena ombak besar," kata Daya, saat ditemui di Pantai Kedonganan, Kamis (13/6/2019).

Daya yang sudah 10 tahun menjadi nelayan juga mengaku, belum tahu sampai kapan  harus berhenti sementara melaut untuk mencari ikan. Ia masih menunggu cuaca dan ombak tenang baru kembali mealut.

"Iya tergantung ombaknya. Kalau bagus iya berangkat," jelas Daya.

Selain itu, Daya juga menjelaskan bahwa dirinya dalam sehari biasanya memperoleh 100 kilogram ikan. Untuk jenisnya ikannya, mulai dari ikan tongkol dan layar. Dalam saban harinya  ikan tongkol dijual Rp 10 ribu dan layar Rp 45 ribu per kilogram. Tetapi, jika  cuaca buruk ikan tongkol menjadi Rp 20 ribu sementara layar harganya tetap.

"Iya karena sepi, harga (ikan) naik. Kalau ramai lagi iya murah lagi. Tapi karena (saya) tak melaut iya tidak  dapat uang," ujarnya.

Sementara Karim (45) nelayan asal Banyuwangi, Jawa Timur,  tetap nekat akan melaut meski ombak besar. Tetapi, dirinya tak berani sampai ke tengah laut hanya di pinggir-pinggir saja. 

Namun, imbasnya ikan yang diperoleh menjadi lebih sedikit. Jika biasanya bisa mendapatkam 100 kilogram kini paling banyak hanya dapat Rp  60 kilogram.

"Iya cuma habis buat beli makan dan rokok," ungkapnya.

Ia berharap ombak besar dan cuaca segera membaik. Pasalnya, ia menjadi tulang punggung keluarganya yang ditinggal di Banyuwangi.

Sementara dari keterangan Imam Faturahman selaku Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Ombak tinggi hingga mencapai enam meter melanda beberapa kawasan pantai selatan di Bali. 

Ombak tinggi tersebut terjadi di antaranya di Pantai Kuta, Pantai Pandawa, Nusa Dua, hingga di Nusa Penida. Ombak tinggi tersebut lantaran masih adanya fase MJO basah yang masih aktif Sehingga pengaruhnya diantaranya hujan lebat. Padahal saat ini masih musim kemarau. 

"Tapi sebagain wilayah indonesia untuk bagian tengah timur itu masih hujan lebat efeknya otomatis akan mempengaruhi dinamika atmosfer sehingga ada daerah yang mempunyai tekanan lebih rendah sehingga angin akan menuju ke situ," ujarnya.

Kecepatan angin yang relatif cepat atau ekstrim disebabkan semakin tinggi perbedaan tekanan. Ini menyebabkan terjadinya gelombang tinggi laut. Imam menjelaskan, kecepatan arah angin secara umum berasal dari arah timur tenggara atau kerap disebut angin timuran.

Misalnya di perairan selatan Bali anginnya lebih kencang dan ombak yang terbang juga akan semakin tinggi. Jika dibandingkan dengan daerah yang lebih sempit mislnya di selat. 

"Sehingga hal ini cukup berbahaya bagi para nelayan atau pengguna transportasi laut," ujarnya.

Di pesisir Selatan Bali, tinggi gelombang atau ombak akan mencapai 4 hingga 6 meter. Adapun di bagian utara lebih rendah dengan ketinggian di bawah 2 meter. Fenomena ini diprediksi masih berlangsung hingga 4 sampai 5 hari ke depan. "Dan bukan hanya di Bali saja tapi di daerah Jawa juga. Pokoknya di perairan selatan, pasti cukup tinggi," ujarnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com